Salam...

"Personal musing inspired by past and ongoing experiences of my life…depicting how I feel and what comes hereafter. However it may also revolves around my personal whishes, hopes and beliefs which I often in doubt and wondering... what is the meaning of life.."

Total Pageviews

Followers

Thursday, August 6, 2026

Rahim Maarof Muncul kembali, Kasih sejati sudirman dan Lirik Lagu `Dir' Habsah Hasan


Dir

Kemboja berguguran memutih
Menemanimu ke jalan akhir
Persada seni yang kau terangi kini sepi

Suara jenaka dan gurauan
Di sebaliknya kau kesepian
Mimpi-mimpimu retak seribu
Tak siapa yang tahu

( korus )

Dir...
Tuhan lebih menyayangi
Dari kami temanmu yang tak pernah mengerti
Dir...
Hanya setelah kau pergi
Kehilangan amat dirasai
tak siapa yang tahu...

( ulang korus )

Suara jenaka dan gurauan
Di sebaliknya kau kesepian
Mimpi-mimpimu retak seribu
Tak siapa yang tahu

Kehilanganmu...
Kehilangan... kehilangan... mu...
Oh... oh... oh...

 Pencipta: Azmi Hashim/Habsah Hassan, Penyanyi: Rahim Maarof, Pengulas lirik: Jankaulu



XXXXX:

Rahim Maarof muncul kembali. Beliau kurang sihat tetapi tetap membuat persembahan menghiburkan peminat. Itulah kelebihan orang seni sejati. Semoga Abang rahim sihat sejahtera, Amin.

Saya suka banyak lagu Rahim Maarof, dan membeli beberapa albumnya. Di telinga saya suaranya lebih sedap dari Anuar Zain dan Sudirman sendiri. Dan beliau nampak stail dan kelas bila membuat persembahan. Gituew... 

Banyak lagu best, salah satu lagu beliau yang best adalah lagu `Dir'. Dicipta untuk memperkatakan tentang seorang seniman rakyat. Jarang tajuk lagu yang menggunakan nama lelaki. Lagu ini untuk penghibur terbaik yang negara kita pernah ada, Sudirman Haji Arsyad. Lagu ini hidup bertenaga apabila dinyanyikan oleh Rahim Maarof.

Kemboja berguguran memutih
Menemanimu ke jalan akhir
Persada seni yang kau terangi kini sepi

Rangkap pertama baris pertama menggunakan perlambangan bunga kemboja (Plumeria). Ia bermaksud kematian dan perkuburan. `Memutih' ini menjadi perlambangan kesucian (bunga kemboja warna putih). Di sini tidak digunakan bunga Matahari atau bunga Mawar dalam mengambarkan suasana kesedihan yang ingin diselitkan di hati pendengar. Baris seterusnya menceritakan hakikatnya akhirnya selain dari tanah, batu nisan dan lalang, akhirnya Dir ditemani juga dengan bunga Kemboja.

Baris ketiga iaitu `Persada seni yang kau terangi kini sepi' adalah ayat yang mempunyai sifat terus terang dan tidak bersimbolik. Iaitu memang ada penyanyi lain, termasuk penyanyi baru yang hu ha-hu ha tapi tidak sehibur Sudirman. 

Keindahan baris ayat ditambah dengan terselitnya pemilihan huruf vokal `i', cuba perati:

" Pesada seni yang kau terangi kini sepi " (1;3)

Pengulangan huruf `i' tersebut melahirkan estetika (keindahan) di telinga kita apabila mendengarnya. Cuba nyanyi rangkap ini. Jangan malu, kalau tak cuba sampai bila kita tak belajar. Tapi kalau suara tak best 1000 tahun belajar pun tak akan jadi best. Haaa.

Suara jenaka dan gurauan
Di sebaliknya kau kesepian
Mimpi-mimpimu retak seribu
Tak siapa yang tahu

Rangkap kedua ni sedih semacam je, bila suara garau Rahim Maarof nyanyi rangkap ni saya terasa bertambah sangat kesedihannya. Tabik Rahim Maarof.

Seperti yang kita kenal, Sudirman ni kelakar orangnya. Apatah lagi bila bergabung dengan Yusni Jaafar (juga kini sudah tiada). Dengan Kak Nita juga dia melawak. Dia pernah usik Kak Pah (yang kini juga tiada) dalam lakaran kartunnya. Dia lukis Kak Pah bergemerlapan dengan intan berlian dan gelarkan Kak Pah `Elizebith Taylor' Malaysia sebab banyak intan berlian.

Tapi, daripada cerita Kak Bam dan Habsah Hassan, Sudir sebenarnya kesepian. Kadang-kadang dia datang lepak tengok tv di rumah mereka. Umum tahu Dir bercerai hidup dengan isterinya. Apa yang peminat tahu Sudir sangat sayangkan isterinya, dan sampai sekarang peminat tidak tahu apa punca penceraian tersebut.

Mungkin bila orang yang kita sayangi telah tiada bersama. Segala harapan dan ceria hidup terbawa bersama... Apa yang tinggal adalah kita yang hidup terus hidup - hidup terus hidup...menunggu mati (baca perengang ni dengan perasaan sedih. Itulah tujuan posting ini ditulis. He he.)

Dir...
Tuhan lebih menyayangi
Dari kami temanmu yang tak pernah mengerti
Dir...
Hanya setelah kau pergi
Kehilangan amat dirasai
tak siapa yang tahu...

( ulang korus )

Rangkap ketiga ni seolah satu keredhaan. Lebih kurang bermaksud `biarlah `Dir' tiada pun, tuhan lebih menyanyangi dia sebab tak kan nak biar dia merana dalam dia seorang diri sampai akhir hayat...". Dan satu pernyatan yang apabila dia sudah tiada, kehilangan dia amat di rasai. Ayat ini mudah dan diret.

Suara jenaka dan gurauan
Di sebaliknya kau kesepian
Mimpi-mimpimu retak seribu
Tak siapa yang tahu

Kehilanganmu...
Kehilangan... kehilangan... mu...
Oh... oh... oh...

Rangkap seterusnya diulang balik rangkap kedua dan ditambah dengan sedikit ayat-ayat lain yang membawa maksud kita kehilangannya dan sedih (disebut 3 kali perkataan kehilangan, `oh' pun 3 kali juga di sebut).


Abang Jan: Banyak penyanyi, banyak lagu, banyak pencipta tetapi yang lekat di hati adalah lagu yang menyentuhi jiwa dan kehidupan kita, Al fatihah...


Tuesday, August 4, 2026

The price of being drunk on love

 As I get older, I’ve come to realize that the price of being drunk on love is far higher than gambling.

With gambling, at least you know your limits. You bring only the money you are willing to lose. If you lose, the worst that happens is your money is gone. Tomorrow, you can still earn it back.

But love... you never know when you actually start placing your bet. There is no receipt, no contract, yet the potential loss has no limit.

At first, you find yourself smiling for no reason. Your phone rings once and your heart beats like you have just won the lottery. Someone simply mentions their name and suddenly the whole day feels beautiful, like you are living in Disneyland. Other people might think you have just received a big bonus. The truth is, you only received a message saying, “Have you eaten yet?”

The problem is, when love does not work out, what disappears is not only time, money, or dignity. Sometimes even your self confidence disappears too. Some people become quiet, some become poets, and some turn into “stone”, hard on the outside but broken inside. Everything falls apart.

And some end up leaving their hometown, carrying themselves far away...

The funniest thing is, you know it might never work out. Your friends have already shown signs of disapproval. Your mind has already raised the white flag. But your heart still refuses to give up.

That is love.

Perhaps that is why people say those who are in love are not stupid, they have simply stopped using their common sense for a while.

Universiti Malaya: When RM10 Had to Last a Day...

Believe it or not, when I was studying at the University of Malaya (UM), I lived on less than RM10 a day. Every single expense for breakfast, lunch, and dinner I write it down gituew. It wasn't because I was studying at the Faculty of Economics and Administration, but because I wanted to manage my spending carefully.

I remember my friend, who is now a bank manager and travels to Europe four times a year, and I deliberately walked back and forth in front of a Chinese bakery in Section 12, Petaling Jaya. We put on pitiful expressions, hoping the shopkeeper would take pity on us and give us bread that had passed its expiry date. He he he.

Back then, we finally understood why some people were driven to prostitution.

It was heartbreaking.

My father always made sure I had enough money. Yet it often became insufficient because I could never bring myself to ignore friends who were struggling even more than I was. Whenever I could, I shared what little I had.

Yet today, those memories have become something strangely sweet, priceless and beyond buying or selling.

Whenever I tell this story to my students, hoping they will be grateful and complain less, most of them immediately reply,

"Things were cheaper back then, sir. RM10 was worth a lot."

That is always their quick answer, macamlah dia pernah ada zaman tu. 

But what I really want to say is this: even in those days, we were genuinely poor. RM10 still was not enough to cover our basic daily needs. We still had to pinch every penny and be extremely careful with our spending. Anything we dreamed of buying could only be afforded after saving for a very long time.

Imagine receiving only RM16,000 to cover four years of university. Haaa

That money had to pay for tuition fees, hostel accommodation, books (we did not photocopy textbooks), and all our living expenses throughout our studies.

After deducting all the necessary expenses, only about RM1,000 remained to get through each academic year (satu penggal pengajian)

(Read that paragraph2 with a heavy heart.)


Asrama Seksa 17




Sharifah Aini & Too Phat: Kolaborasi Mendahului Zaman

Setahu saya, termasuk album kompilasi, Kak Pah ada lebih dari 10 buah album inggeris. Termasuk juga dengan album yang belaiu muncul untuk album orang lain. Contohnya ramai yang tidak tahu bahawa Datuk Sharifah Aini pernah berduet dengan kumpulan hip-hop Too Phat.

Kolaborasi mereka menerusi lagu "You" dimuatkan dalam album kedua Too Phat, Plan B yang diterbitkan pada tahun 2001.

Lagu ini menggabungkan rap berbahasa Inggeris oleh Malique dan Joe Flizzow dengan alunan vokal Datuk Sharifah Aini yang lunak, penuh emosi dan puitis pada bahagian korus. Hasilnya ialah sebuah karya yang unik, segar dan melangkaui kebiasaan muzik Malaysia pada ketika itu. Malah mereka pernah membuat persembahan bersama menyampaikan lagu ini. dengan mendapat tepukan yang gemuruh (saya tengok dalam tv).

Sehingga hari ini, "You" masih dianggap sebagai antara kolaborasi rentas genre yang menggabungkan hip-hop dan pop klasik yang paling ikonik serta mendahului zamannya dalam sejarah muzik tempatan.

Ia membuktikan bahawa muzik yang baik tidak mengenal sempadan genre, asalkan ada keberanian untuk bereksperimen dan saling menghormati seni masing-masing. Ini juga membuktikan Kak Pah sporting jea...biduanita yang relevan melalui masa, masa yang penuh perubahan cabang muzik. 











Sudahlah mabuk, pergi berjudi pula!

Bila usia semakin bertambah, saya mula sedar bahawasanya `Harga Mabuk Cinta Lebih Mahal daripada Berjudi'

Berjudi, kita tahu hadnya. Kita bawa duit yang sanggup rugi. Kalau kalah, paling-paling duit melayang. Esok masih boleh cari lagi.

Tetapi cinta... kita tidak pernah tahu bila kita mula "bertaruh". Tiada resit, tiada kontrak, namun paling gempak tiada had kerugiannya.

Mula-mula senyum seorang diri GBSSS. Telefon berbunyi sekali pun jantung berdegup macam menang loteri. Nama disebut sedikit, terus rasa hari itu indah macam Disneylang. Orang lain tengok, mungkin ingat kita baru dapat bonus. Hakikatnya, kita cuma dapat mesej, "Dah makan ke tu?"

Masalahnya, apabila cinta tidak menjadi, yang hilang bukan sekadar masa, wang dan maruah diri (derma badan). Kadang-kadang keyakinan diri pun ikut hilang. Ada yang menjadi pendiam, ada yang menjadi penyair, dan ada juga yang terus menjadi "batu", keras di luar, retak di dalam. Punah segala...kata Ziana Zain.

dan ada yang membawa diri dari kampung...emmm....

Yang paling lucu, kita tahu ia mungkin tidak akan berjaya. Kawan-kawan pun sudah beri isyarat meluat. Otak pun sudah angkat bendera putih. Tetapi hati masih berdegil. Nya kehel jugok.

Itulah cinta.

Barangkali sebab itu orang kata, orang yang sedang bercinta bukan bodoh, cuma berhenti guna akal.

Gambar adalah hiasan, tak ada kena mengena dengan syarikat Toto



Dendam politik: Tiada...hanya doa.




Politik boleh berubah setiap lima tahun.Tetapi jiran, sahabat dan keluarga mungkin bersama seumur hidup. Berbeza pandangan tidak bermakna bermusuhan. Jagalah hubungan, hormatilah perbezaan. Hidup ini tidak lama. Percayalah.


Pokok Manggis ini adalah kenangan...

 



Pokok Manggis saya sudah berbuah, seronok melihat buahnya, boleh dipetik begitu sahaja.







Kadang-kadang

Kadang-kadang apabila realiti tidak menjadi, muncullah fantasi...

Home